Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Warteg, Perempuan, dan Mitos yang Kita Anggap Biasa

Gambar
Di banyak sudut kota, warteg berdiri sebagai simbol kejujuran: makanan cepat, harga bersahabat, dan tanpa pretensi. Tapi ada satu hal yang sering luput kita sadari: siapa yang duduk di dalamnya. Coba perhatikan. Di jam makan siang, warteg lebih sering dipenuhi laki-laki. Bukan berarti perempuan tidak boleh masuk. Tidak ada larangan. Tidak ada aturan tertulis. Tapi tetap saja, ada jarak yang terasa nyata. Pertanyaannya: kenapa? Jawabannya tidak sesederhana “perempuan tidak suka warteg”. Ini bukan soal selera. Ini soal makna. Dalam kacamata semiotika Roland Barthes, warteg bukan sekadar tempat makan. Ia adalah tanda. Secara denotatif, warteg hanyalah ruang fungsional: etalase lauk, bangku panjang, dan aktivitas makan yang cepat. Namun, di level konotasi, warteg membawa beban makna yang lebih dalam—ia identik dengan kelas pekerja, keringat, asap rokok, dan ketidakteraturan. Singkatnya: ia terasa sangat maskulin. Di sinilah masalahnya mulai terlihat. Sejak lama, perempuan tidak hanya hidup...

Piala Dunia: Bukan Lagi Tradisi, Hanya Dongeng Masa Lalu Italia

Gambar
  " Kita, keluar dari Piala Dunia? Itu akan menjadi sebuah kiamat. " Kalimat itu diucapkan Carlo Tavecchio, mantan kepala Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), pada September 2017. Saat itu, ia bicara seolah-olah hal tersebut adalah kemustahilan yang haram terjadi. Namun, sejarah mencatat bahwa kiamat tidak hanya datang sekali. Setelah tragedi di tangan Swedia (2018) dan kejutan pahit Makedonia Utara (2022), "kiamat" itu kini resmi menjadi sebuah rutinitas. Selasa malam di Stadion Bilino Polje, Zenica, menjadi saksi bisu runtuhnya sisa-sisa harga diri sang juara dunia empat kali. Italia dipastikan gagal melangkah ke Piala Dunia 2026 setelah takluk 1-4 dalam adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina. Bagi anak-anak di Roma, Milan, hingga Napoli, Piala Dunia bukan lagi sebuah tradisi musim panas yang wajib ada; ia telah berubah menjadi dongeng masa lalu yang hanya bisa diceritakan oleh kakek-nenek mereka. Runtuhnya Sang Raksasa Pertandingan di Zenica adalah mikrokosmos ...