Piala Dunia: Bukan Lagi Tradisi, Hanya Dongeng Masa Lalu Italia

 "Kita, keluar dari Piala Dunia? Itu akan menjadi sebuah kiamat." Kalimat itu diucapkan Carlo Tavecchio, mantan kepala Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), pada September 2017. Saat itu, ia bicara seolah-olah hal tersebut adalah kemustahilan yang haram terjadi. Namun, sejarah mencatat bahwa kiamat tidak hanya datang sekali. Setelah tragedi di tangan Swedia (2018) dan kejutan pahit Makedonia Utara (2022), "kiamat" itu kini resmi menjadi sebuah rutinitas.

Selasa malam di Stadion Bilino Polje, Zenica, menjadi saksi bisu runtuhnya sisa-sisa harga diri sang juara dunia empat kali. Italia dipastikan gagal melangkah ke Piala Dunia 2026 setelah takluk 1-4 dalam adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina. Bagi anak-anak di Roma, Milan, hingga Napoli, Piala Dunia bukan lagi sebuah tradisi musim panas yang wajib ada; ia telah berubah menjadi dongeng masa lalu yang hanya bisa diceritakan oleh kakek-nenek mereka.


Runtuhnya Sang Raksasa

Pertandingan di Zenica adalah mikrokosmos dari penderitaan Italia selama satu dekade terakhir. Meski sempat unggul lewat gol Moise Kean di menit ke-15, kartu merah Alessandro Bastoni di menit ke-41 mengubah segalanya. Italia yang dahulu dikenal dengan pertahanan grendel Catenaccio yang tak tertembus, kini dipaksa bertahan dengan rasa takut.


Statistik pertandingan berbicara dengan sangat jujur. Bosnia mendominasi penguasaan bola hingga 59% dan melepaskan 18 tembakan. Bandingkan dengan Italia yang hanya mampu membalas 8 kali. Gol balasan Haris Tabakovic di menit ke-79 hanyalah konsekuensi logis dari tekanan bertubi-tubi yang gagal diredam oleh lini belakang Azzurri.


Saat laga berlanjut ke adu penalti, mentalitas Italia tampak hancur berkeping-keping. Kegagalan Pio Esposito dan Bryan Cristante memastikan Italia menjadi pemenang Piala Dunia pertama dalam sejarah yang absen dalam tiga edisi beruntun. Sebuah rekor memilukan yang menegaskan bahwa kesuksesan di Euro 2020 hanyalah sebuah anomali di tengah proses pembusukan sistemik.


Krisis Kepemimpinan dan Identitas

Di pinggir lapangan, Gennaro Gattuso tampak hancur. "Ini menyakitkan, sangat menyakitkan," ujarnya dengan mata berkaca-kaca, menurut ESPN. Namun, masalah Italia jauh lebih dalam dari sekadar taktik pelatih. Sejak aturan Bosman dan masuknya arus pemain asing masif ke Serie A, akademi-akademi di Italia gagal memproduksi bakat lokal yang mampu mengemban beban di laga hidup-mati.


Italia kini tertinggal secara finansial dan infrastruktur. Di saat liga-liga lain memodernisasi stadion dan meningkatkan nilai komersial, sepak bola Italia terjebak dalam romantisme masa lalu. Kegagalan ini bukan lagi sebuah "kecelakaan olahraga", melainkan hasil dari manajemen yang lambat beradaptasi dengan sepak bola modern.


Sepak Bola Sebagai "Ilusi" yang Pecah

Mengapa kegagalan ini terasa begitu menghancurkan bagi masyarakat Italia? Untuk memahaminya, kita perlu kembali ke tahun 1821 melalui pemikiran penyair Giacomo Leopardi. Dalam karyanya, Leopardi berpendapat bahwa dunia pada dasarnya adalah "kehampaan yang nyata." Namun, manusia bertahan hidup dengan menciptakan "ilusi"—seperti kepahlawanan dan kejayaan—untuk membuat realitas yang pahit menjadi tertahankan.


Bagi masyarakat Italia, sepak bola adalah ilusi kolektif tersebut. Di tengah krisis ekonomi, tingkat pengangguran kaum muda yang mencapai 35%, dan ketidakpastian politik, kemenangan tim nasional adalah satu-satunya hal yang memberikan mereka rasa bangga dan identitas. Sepak bola adalah pelarian dari kenyataan pahit di laut Mediterania dan kegagalan bank-bank nasional.


Kini, dengan absennya Italia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, ilusi itu telah pecah sepenuhnya. Rakyat Italia tidak lagi memiliki topeng untuk menutupi wajah krisis mereka. Mereka terpaksa menatap "kehampaan" yang ditulis Leopardi tanpa ada lagi kebanggaan dari lapangan hijau.


Akhir dari Sebuah Era

Jika pada 2018 kegagalan itu disebut sebagai "Titanic", maka pada 2026 ini adalah puing-puing yang sudah tenggelam di dasar samudra. Italia harus berhenti menyebut diri mereka raksasa jika tidak berani merombak total sistem mereka.


Kemenangan Bosnia-Herzegovina di bawah asuhan Sergej Barbarez adalah pengingat: sepak bola modern tidak lagi peduli pada sejarah besar atau jumlah bintang di atas logo federasi. Ia hanya peduli pada siapa yang lebih siap secara fisik, taktik, dan mental.


Hari ini, bendera Italia tidak akan berkibar di panggung dunia. Yang tersisa hanyalah hening, penyesalan, dan sebuah dongeng tentang kejayaan masa lalu yang semakin lama semakin sulit untuk dipercaya.

Komentar

ARTIKEL MENARIK LAINNYA:

Pet Sematary: Kadang Kematian Memang Lebih Baik

Piala Dunia dan Idul Fitri: Sukacita Perayaan Ganda

Akhir Kisah Ajax nan Romantis: Dramatis Sekaligus Tragis